Lama gak nulis, akhirnya dapat menyempatkan menulis lagi hehe
Latepost
Suasana malam yang syahdu...
Di bawah langit hitam berbintang..
Di tengah lapangan depan gedung A2 FIP Unnes..
Sekumpulan mahasiswa pecinta sastra dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah datang untuk merayakan hari kematian sang penulis legendaris Indonesia yaitu Chairil Anwar.
Malam ahad, tepatnya 5 mei 2018 saya diajak teman saya untuk melihat penampilan pembacaan puisi dari UKM Cakra. Gaya mahasiswa keluar hehe,, "ayo mumpung lagi pusing banyak tugas (berasa punya tugas sendiri). Bolehlah sesekali refreshing meski gak begitu tahu sastra".
Di sana ada banyak pembacaan puisi yang indah dari mahasiswa komunitas pecinta puisi.
Puisi karya Chairil Anwar banyak sekali dan sayapun gak hafal dan hampir asing semua. Kecuali yang berjudul AKU. Saya pernah baca buku itu di perpus fakultas. Menarik bagi saya.
Di acara tersebut ada salah seorang dosen, namanya pak Burhan. Lengkapnya kurang tahu karena beliau dosen FBS.
Beliau diawal, membacakan puisi berjudul AKU sampai selesai tanpa membaca buku. Keren gumamku.
Yang menarik adalah ketika beliau menyampaikan Chairil sudah mati, kenapa kalian masih berkiblat dengan chairil? Kenapa tidak kalian buat puisi yang lebih revolusioner? Kalau saya malah ingin melupakan nama Chairil anwar karena dia sudh mati. Tapi kenapa kalian malah memperingatinya?
Jawaban beliau "karena karya beliau itu selalu asik dan enak kita nikmati, namun bisalah kalian baca referensi puisi-puisi lain. Revolusionerlah dengan membuat karya yang lebih besar dari Chairil anwar karena kalian masih muda. Jawaban yang terakhir aku ingin melupakan dan menghapuskan nama Chairil Anwar namun nama itu sudah mendarah daging pada diriku".
Dari pengalaman malam itu dapat saya ambil hikmah bahwa sastra itu indah, penuh makna, penjiwaan yang kuat dan menuntut peka jika membuat puisi. Belajar menyukai sastra. Terima kasih kawanku yang telah mengajakku ke acara itu malam itu. For Afrida Yeni dari Padang, Kawan Sejak Maba di Unnes.